Saat Batuk Tak Kunjung Reda

Jika buah hati Anda mengalami batuk yang terus menerus dan tak kunjung sembuh dalam waktu yang lama maka hendaknya Anda waspada, karena bisa jadi hal tersebut merupakan gejala pertusis atau yang lebih dikenal dengan istilah “batuk rejan”. Pertusis atau batuk rejan merupakan salah satu penyakit infeksi saluran nafas yang perlu dikenali oleh para orang tua. Apalagi, penyakit ini termasuk salah satu penyakit yang cukup serius dan perlu mendapat penanganan memadai supaya tidak berakibat fatal.

Apakah “Pertusis” atau “Batuk Rejan” Itu?

Pertusis (batuk rejan) merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang saluran nafas dan disebabkan oleh kuman Bordetella pertusis atau Hemofilus pertusis yang ditandai dengan batuk ngikil (terus menerus sampai terpingkal-pingkal) dan diselingi dengan bunyi melengking yang khas. Penularan penyakit ini cukup mudah dan cepat, yaitu melalui udara yang tercemar kuman Bordetella pertusis atau Hemofilus pertusis. Batuk yang satu ini memang lain dari batuk pada umumnya karena jika sudah terkena maka batuknya “awet” atau tidak sembuh-sembuh dalam waktu relatif lama. Pertusis atau batuk rejan dapat berlangsung selama 6 pekan atau lebih.

Bagaimana Gejala Penyakit Batuk Rejan?

Pada pekan pertama, anak yang menderita batuk rejan akan menunjukkan gejala batuk-pilek, biasanya disertai dengan suhu tubuh yang meninggi (demam). Setelah masuk pekan kedua, batuk anak menjadi makin parah. Batuknya pun makin lama makin kuat dan lama. Batuk terjadi terus menerus dan berlangsung lama, kemudian tarikan nafasnya panjang. Pada anak berusia di atas 18 bulan, nafasnya terdengar berdenging. Karena begitu kuatnya batuk, sampai-sampai anak harus membungkuk bahkan sampai muntah. Dalam kondisi seperti ini, sangat mungkin terjadi komplikasi seperti batuk dengan darah atau mimisan akibat perdarahan pada saluran nafasnya. Umumnya batuk lebih sering terjadi pada malam hari.

Pada umumnya, batuk akan berhenti setelah anak mengeluarkan lendir yang kental dan muntah-muntah. Anak akan tampak kelelahan dan sulit bernafas. Sebagian anak ada yang langsung tertidur karena kelelahan. Tidak berapa lama, biasanya batuk muncul kembali.

Apa Saja Komplikasi dari Batuk Rejan?

Kondisi yang semakin parah dan tidak mendapatkan perawatan yang memadai akan menimbulkan komplikasi (akibat lanjutan/penyerta) berupa batuk darah, mimisan, perdarahan di mata (terutama di bagian mata yang berwarna putih), bahkan bisa juga menyebabkan perdarahan otak. Ada juga beberapa anak penderita batuk rejan yang mengalami kejang-kejang, mata menonjol, dan lidah menjulur. Bahkan ada anak yang sampai kehilangan kesadaran.

Bagaimana Proses Penyembuhan Batuk Rejan?

Melalui perawatan yang intensif, penderita batuk rejan dapat sembuh dan memasuki masa penyembuhan, tentunya dengan seizin Allah. Biasanya, batuk mulai berkurang meskipun pileknya menetap lebih lama. Selain itu, frekuensi muntah juga berkurang dan nafsu makan mulai kembali normal. Batuk ini bisa kambuh kembali jika anak tidak mendapatkan gizi yang cukup atau daya tahan tubuhnya turun terus menerus akibat menderita penyakit lain. Namun, biasanya tidak separah serangan pertama.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Jika Anak Terserang Batuk Rejan?

Jika Allah menakdirkan si kecil terserang batuk rejan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meringankan penyakitnya. Berikut ini adalah hal-hal yang bisa menjadi ikhtiar orang tua ketika batuk rejan tak dapat dihindari:

  1. Jika anak mengalami batuk rejan, cobalah untuk tetap bersikap tenang ketika anak mengalami batuk-batuk.
  2. Dudukkan anak dan pijat punggungnya agar ia bisa lebih mudah bernafas.
  3. Sediakan ember atau mangkuk untuk menadahi dahak (lendir kental) yang keluar dari mulut anak. Jangan lupa mencucinya sampai bersih setelah digunakan.
  4. Jangan paksa anak untuk makan banyak sekaligus, tapi berikan sedikit demi sedikit karena anak yang sedang batuk-batuk biasanya tidak mau makan.
  5. Usahakan agar emosi anak tetap stabil dengan memantau aktivitasnya, karena aktivitas yang berlebihan dapat memicu terjadinya batuk.
  6. Hindarkan anak dari asap rokok.
  7. Pastikan agar anak dapat beristirahat dengan cukup dan tenang.
  8. Jika perlu, buatlah giliran untuk menjaga si kecil (dengan suami/istri atau anggota keluarga lain yang sudah dewasa), karena batuk rejan sering terjadi pada malam hari dan anak membutuhkan dukungan ketika sedang mengalami batuk-batuk.
  9. Berikan makanan yang bergizi dan hindari makanan yang merangsang batuk.
  10. Jika sudah mulai muncul gejala batuk rejan, segera bawa anak ke tempat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapat penanganan yang tepat. Dokter akan memeriksa dan memberikan pengobatan yang sesuai. Jika diperlukan, dokter akan menganjurkan rawat inap bagi anak dengan gejala yang cukup parah.
  11. Jangan lupa untuk terus berdo’a memohon kesembuhan bagi si kecil dan dianjurkan pula untuk selalu mengamalkan dzikir dan do’a yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah karena ikhtiar yang telah dilakukan harus diikuti dengan do’a dan juga tawakal yang sempurna kepada Allah.

Penutup

Penyakit pertusis atau batuk rejan memang sangat mengganggu aktivitas anak. Apalagi komplikasi yang terjadi akibat penyakit ini juga cukup merisaukan. Sebagai orang tua, hendaknya kita mewaspadai gejala-gejala penyakit ini supaya tidak terlambat dalam memberikan pertolongan bagi buah hati kita. Selalu berikan makanan yang bergizi untuk anak-anak kita agar daya tahan tubuhnya kuat sehingga insyaAllah anak tidak mudah terserang penyakit.

Penulis: dr. Avie Andriyani (dimuat di majalah As Sunnah edisi 10/XII/Muharram1430H/Januari 2009M)

Sumber:

1.   Komite Medik RSUP dr.Sardjito, Standar Pelayanan Medis RSUP dr.Sardjito, Medika, FK UGM Yogyakarta

2.   dr. Karel, SpA, Merawat Anak Sakit di Rumah, Penerbit Puspa Sehat

3.   Depkes RI, 2001, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala

http://ummushofiyya.wordpress.com/2010/08/01/saat-batuk-tak-kunjung-reda/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*