Derap Rapa-i Tandai Visit Banda Aceh 2011

JAKARTA – Derap rapa-i menggema dari Balairung Saptapesona, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), Jakarta, Selasa (19/10) sebagai tanda diresmikannya program Visit Banda Aceh 2011. Instrumen rapa-i ditabuh serentak oleh Menteri Kebudayaan dan Kepariwisataan Jero Wacik, Wakil Gubernur (Wagub) Aceh Muhammad Nazar, Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin, Wakil Walikota Illiza Sa’aduddin Djamal, dan Dirjen Pemasaran Sapta Nirwanda yang dibalut dalam pakaian adat Aceh
Peluncuran Visit Banda Aceh 2011 dimeriahkan pertunjukan tari Tarek Pukat dan Saman Gayo serta penampilan penyanyi asal Aceh, Tompi. Artis kawakan Christine Hakim dan beberapa selebriti berdarah Aceh menyatakan dukungannya terhadap program tahun kunjungan wisata Aceh tersebut. Hadir pula sejumlah bupati dan walikota serta anggota DPRA dan DPRK beserta anggota DPR/DPD RI asal Aceh.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik menilai pencanangan tersebut sebagai langkah yang tepat untuk mendukung kepariwisataan di Aceh. “Aceh memiliki potensi pariwisata yang luar biasa. Tinggal dikembangkan saja. Kami akan membantu sepenuhnya. Kami memberi perhatian kepada Aceh sebagai ungkapan terima kasih atas dukungan penuh rakyat Aceh yang telah memenangkan Presiden SBY 92,67 persen. Ini juga diingatkan Presiden kepada saya,” kata Menbudpar Jero Wacik disambut tepuk tangan ratusan pengunjung yang memadati balairung itu.

Dukungan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata itu diberikan dalam bentuk promosi dan anggaran. “Tapi tentu saja bersama-sama dengan Pemerintah Aceh,” kata Jerok Wacik kepada pers sambil melirik Wagub Muhammad Nazar yang berdiri di sampingnya.

Daerah terbuka
Wagub Muhammad Nazar menyatakan pencanangan Visit Banda Aceh 2011 merupakan langkah strategis untuk kepentingan percepatan pembangunan, khususnya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, mengatasi pengangguran dan kemiskinan. “Visit Banda Aceh 2011 ini hendaknya bukan sekadar untuk kepentingan Banda Aceh atau ibukota Provinsi Aceh, melainkan juga hajatan seluruh Aceh dan bahkan nasional,” kata Wagub yang juga mengenakan pakaian adat Aceh dilengkapi kupiah meukeutob.

Menurut Nazar, kosmopolitanisme Aceh telah terbentuk sejak lama dan menjadi daerah terbuka bagi siapa saja, sehingga Aceh dikenal sebagai melting port atau tempat singgah bagi komunitas internasional, dan menjadi tempat menetap permanen secara turun temurun. Ia melaporkan selama empat tahun terakhir sektor pariwisata Aceh mulai menggeliat kembali seiring dicapainya perdamaian dan keadaan sangat kondusif. Tahun 2004 wisatawan nusantara dan mancanegara yang menjejakkan kaki ke Aceh berjumlah 294.528 orang, terus meningkat di tahun 2005 menjadi 296.801 orang, tahun 2006 jadi 395.691 wisatawan, 2007 sebanyak 595.546 wisatawan, 2008 710.081 wisatawan, dan tahun 2009 menjadi 712.630 wisatawan.

“Kita menaruh harapan besar karena trend kunjungan pariwisata ke Aceh terus meningkat, terlebih lagi dengan diberlakukannya visa on arrival pada 2010 ini,” kata Nazar. Pemerintah Aceh mendorong pemerintah kabupaten/kota untuk menyelenggarakan agenda kebudayaan dan pariwisata yang dapat dijadikan brand tersendiri, seperti Festival Baiturrahman, Festival Seulawah, Festival Geurutee, Festival Leuser dan lain-lain. “Bahkan bencana gempa-tsunami harus dapat diubah menjadi rahmat kersejahteraan selagi Aceh masih menjadi daya tarik internasional saat ini. Apalagi Museum Tsunami sudah dibangun,” ingat Wagub Muhammad Nazar.

Secara khsusus Wagub Nazar minta kepada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk mendukung penuh rangkaian agenda yang telah disusun di Aceh, meliputi pergelaran Folkdance International 2011, Sail Sabang, Destinasi Sabang dan sebagainya.

Silakan berkunjung
Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin mempersilakan segenap masyarakat datang ke Aceh dan dijamin keamanan dan kenyamanannya. “Di tempat kami sekarang ada warung kopi 24 jam lengkap dengan fasilitas wifi,” kata walikota berpromosi. Kepada artis berdarah Aceh yang berkiprah di ibu kota, diminta oleh Mawardy Nurdin menjadi duta pariwisata Aceh.

Menyahuti ajakan itu, Teuku Edwin yang tampil sebagai pembawa acara bersama Cut Mini, menyatakan kesiapannya sebagai “juru wisata Aceh.”  “Secara moral kami mendukung program ini. Melalui peran kami sebagai publik figur mudah-mudahan dapat mendorong suksesnya program Visit Banda Aceh 2011 ini,” kata Edwin. Dukungan swerupa diutarakan Teuku Wisnu, artis yang lahir dan menghabiskan masa remajanya di Sigli. Artis senior dan pemeran Tjoet Njak Dhien, Christine Hakim juga menyatakan kesiap-sediannya mendukung program Visit Banda Aceh 2011.(fik)

sumber : http://www.serambinews.com/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*