Kepala Bapedal Aceh: Trembesi tidak Cocok Ditanam di Median Jalan Utama

BANDA ACEH – Pohon trembesi (Samania saman) tidak cocok ditanam di median jalan, karena percabangannya bisa mengganggu lalu lintas. Pasalnya, trembesi yang dalam bahasa Aceh dikenal dengan nama bak asan teunget atau bak murong agam, mempunyai sistem percabangan yang banyak dan mengarah ke samping (sekelilingnya), sehingga menaungi wilayah yang luas.
“Pohon trembesi juga tidak tahan di bawah naungan, maka secara alamiah terjadi pemangkasan alami terhadap ranting-ranting bawah, sehingga tajuknya berbentuk payung. Karena itulah, cabangnya bisa mengganggu lalu lintas,” jelas Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Aceh, Ir Husaini Syamaun MM, kepada Serambi, di ruang kerjanya, Selasa (28/12).
Hal itu disampaikan jebolan Institut Pertanian Bogor ini sehubungan dengan mulai maraknya praktik penanaman trembesi di sejumlah median jalan di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar dalam beberapa waktu terakhir. Terutama setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyerahkan pohon trembesi sebagai pohon penghijauan di kawasan Tibang, Banda Aceh, 29 November lalu.

Menurut Husaini, jika pohon trembesi diperlukan untuk naungan atau keteduhan, sebaiknya ditanam di pinggir jalan atau di tempat-tempat lain yang memerlukan keteduhan, seperti di sudut lapangan, bukit-bukit peristirahatan di tengah sawah, atau untuk rehabilitasi hutan lindung.

Masyarakat Aceh, kata Husaini, dengan mudah dapat melihat pohon trembesi yang sudah besar dan rimbun di sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Di Banda Aceh misalnya, trembesi dewasa dapat dilihat di Simpang Jam (Kompleks Kantor PSSI Aceh). Di Pidie dapat dilihat di sebelah utara Stadion Kuta Asan Sigli. Di Bireuen dapat disaksikan di kawasan Gle Geulungku, dan di Meulaboh dapat dilihat di lapangan dekat pantai atau dekat kompleks militer.

Menurut Husaini, penanaman dan pengembangan pohon trembesi yang akhir-akhir ini gencar dilakukan di semua provinsi di Indonesia, merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden SBY beberapa waktu lalu saat menanam trembesi di Waduk Jatiluhur. “Salah satu alasannya karena pohon trembesi banyak mengikat atau menyimpan karbon,” ujar mantan wakil kepala Dinas Kehutanan Aceh ini seraya menyatakan trembesi juga terdapat di pekarangan Istana Negara.

Versi Husaini, trembesi termasuk kayu keras dan kuat, tapi batangnya tidak lurus dan cabangnya pendek. Karena itu, trembesi tidak dibudidayakan untuk produksi kayu. Tapi, hanya untuk keperluan meubel atau kerajinan ukir dan kayu bakar. “Karena trembesi banyak mengikat karbon, maka diminati banyak orang untuk kayu bakar. Sebab, baranya sangat bagus dan tahan lama,” ungkap Husaini.

Penanggulangan banjir
Pada bagian lain ia katakan, penanggulangan banjir akibat perubahan iklim harus dilakukan secara global. Menurutnya, semua penduduk dunia harus berperan ramah lingkungan dengan cara dan peranannya masing-masing. Negara-negara maju yang sudah menikmati nilai ekonomi dari industri penghasil emisi karbon, lanjutnya, harus lebih bertanggung jawab.

“Tapi masyarakat negara berkembang juga tidak boleh mengabaikan atau manja dengan bantuan, melainkan harus tertanam pengertian bahwa mengelola lingkungan agar seimbang dan lestari adalah wajib,” jelas Husaini.

Ia tambahkan, banjir dapat disebabkan oleh beberapa sebab. Misalnya, curah hujan yang di luar biasanya, penggundulan hutan di hulu jika hutan di hulu sudah rusak, penyempitan atau pendangkalan sungai, banyak bangunan yang menghambat serapan air ke dalam tanah, serta salahnya perencanaan dan penggunaan ruang wilayah.


Sementara itu, PLN Wilayah Aceh menanam 400 pohon trembesi di SMK 1, 2, dan 3 Lhoong Raya, Banda Aceh, Senin (28/12). Tujuan penghijauan ini untuk menyukseskan program penanaman 1 miliar pohon yang dicanangkan Presiden SBY.

Deputi Manager Bagian Hukum dan Humas PT PLN (Persero) Wilayah Aceh, Said Mukarram mengatakan, dalam program penanaman 1 miliar pohon yang dicanangkan Presiden SBY itu, PLN Wilayah Aceh mendapat jatah 6.000 pohon trembesi.

“Untuk BUMN jatah pohonnya 125.000 batang dan kita telah tanam hari Senin (27/12) lalu, sebanyak 400 pohon di SMK 1, 2, dan 3 Lhoong Raya. Penanaman itu kita lakukan secara bersama seusai upacara bendera,” jelas Said.

Sebelumnya PLN Aceh juga telah menanam pohon pada sejumlah lokasi di Kota Banda Aceh dan sekitarnya. “Kita juga akan tanam di Takengon dan Subulussalam,” terang Said. (jal/c47)

sumber : http://www.serambinews.com

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*