Rusunawa, Hunian Multikultur Pertama di Aceh

RUMAH Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Gampong Keudah, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, yang dibangun pada 2009 dan mulai dihuni sejak Februari 2010, masih menyisakan 67 unit kamar dari 198 unit kamar yang ada.

Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Rusunawa, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Banda Aceh, terus mensosialisasikan dan memberi kemudahan bagi warga yang ingin menyewa dan menempati hunian rumah susun pertama di Aceh itu. Kemudahan itu antara lain penyewa bisa membayar dalam dua termin.
Awal Februari 2010, Rusunawa berlantai lima bermenara dua itu di huni lima KK, jumlah yang berhasil lolos seleksi administrasi dari sekira 200 pemohon pada awal pembukaannya. Kemudian, minggu kedua Februari, pihak UPTD Rusunawa kembali berhasil mengenjot jumlah itu menjadi 25 KK, dan akhirnya kini Maret 2011 jumlahnya menjadi 131 KK, meski jumlah unit kamar yang tersedia belum penuh.

“Jumlah yang menyewa meningkat dratis, pada April 2010. Setelah kita berkoordinasi dengan Wali Kota Banda Aceh, membuat pengurusan administrasi semakin mudah. Bukan itu aja, kalau dulu yang menyewa harus warga Banda Aceh dan sekitarnya, kini berkembang bisa dihuni semua warga yang memiliki KTP Aceh. Kami juga memberi kemudahan pembayaran uang sewa per tahun yang bisa dibayar dua kali,” kata Kepala UPTD Rusunawa, M Yasir kepada Serambi, Kamis (3/3) di Banda Aceh.

Sebut Yasir, kebijakan itu sesuai PP Wali Kota Banda Aceh Nomor 55 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Tambah dia lagi, pembayaran sewa Rusunawa bervariasi, dari Rp 2.625.000-Rp 3.750.000 per tahun, berdasarkan lantai hunian, baik blok A maupun B. “Sewa dibayar dua kali dalam setahun dan membayar tiga bulan uang muka,” katanya.

Dengan kemudahan yang diberikan Pemko Banda Aceh, namun masih saja Rusunawa yang memiliki empat cleaning service dan enam satpam itu belum juga penuh, sehingga masih menyisahkan 67 unit kamar lagi.

“Awalnya kita membuka sewaan di block A dulu, setelah di block A penuh baru kita buka block B, sekarang block B sudah 32 unit kamar yang dihuni,” ungkap Yasir.

Hary Setiawan, salah seorang penghuni Rusunawa Banda Aceh, yang menempati bangunan tinggi yang dibangun di atas seluas enam hektare itu mengatakan, Rusunawa di Banda Aceh kehadiranya sangat membantu dirinya, yang berprofesi sebagai dosen di Poltek Aceh, karena menurutnya harga sewa rumah di Banda Aceh harganya selangit. Namun dia tak tau persis mengapa masih kurang diminati.

“Saya nyewa bulan April 2010. Dengan sewa di sini saya bisa menabung untuk membayar DP kredit rumah sehingga akhirnya saya bisa memiliki rumah nantinya. Saran saya yang semoga syarat bagi penyewa Rusunawa dipermudahkan lagi, sehingga Rusunawa ini bisa penuh,” kata Hary yang kini dinobatkan sebagai Ketua Hunian Rusunawa kepada Serambi.

Satu unit kamar terdiri dari satu kamar tidur utama, satu ruang tamu, dapur, balkon, kamar mandi plus WC, listrik, air PDAM/sumur bor. Di Rusunawa Banda Aceh juga tersedia, Mushalla, pakir kendaraan, ruang serba guna, ruang komersil, dan rencananya akan dibangun, Mini Market, Warung kopi, toko klontong, dan taman bermain bagi anak-anak. (saniah ls)

sumber : http://aceh.tribunnews.com

4 Comments

  1. kalau mahasiswa bisa gak menyewa rumah di rumah susun tu?? soalnya saya lgi butuh tempat tinggal yg murah soalnya di bnda sewa rmah mhall…

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*