Mengatasi anak pingsan

Pingsan yang dalam bahasa medis disebut sinkop merupakan suatu keadaan hilangnya kesadaran dan kontrol postur tubuh untuk sementara waktu. Pingsan biasanya terjadi cepat, tidak berlangsung lama, dan kesadaran akan kembali secara spontan.

Pingsan dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan pada semua usia. Meski kerap membuat panik, kebanyakan kasus pingsan tidak berbahaya. Namun, bila anak sering pingsan tentu mesti ditata laksana lebih lanjut oleh seorang dokter untuk menyingkirkan penyebab yang berbahaya, seperti kelainan jantung.

Pingsan terjadi bila otak kekurangan oksigen akibat aliran darah ke otak menurun. Jadi, semua kondisi yang menurunkan tekanan darah ke otak (hipotensi) dapat mengakibatkan pingsan. Perlu diketahui, menurunnya tekanan darah ke otak akan berpengaruh pada organ-organ lain di tubuh. Pingsan adalah cara tubuh menghadapi situasi yang membahayakan sebagai usaha terakhir akibat otak kekurangan oksigen. Dengan terjadinya pingsan, yang bersangkutan dapat meminimalkan kerusakan organ tubuh yang terjadi.

Seseorang umumnya sudah mengetahui tanda-tanda yang diberikan tubuh bahwa dia akan pingsan, seperti pusing, pandangan menghitam tiba-tiba, perasaan melayang (terutama saat sedang berdiri), mual, lemas, berkeringat, rasa kepanasan, palpitasi, dan rasa tidak nyaman di perut. Pingsan disebab oleh beberapa hal, seperti berikut ini:

  1. Postural hipotensi, umumnya terjadi setelah anak duduk beberapa saat kemudian mengalami perasaan pusing ketika berdiri.
  2. Dehidrasi parah, biasanya pada anak-anak yang berolahraga di cuaca panas.
  3. Anemia.
  4. Setiap jenis perubahan irama jantung dapat mengakibatkan fluktuasi dalam jumlah darah yang dipompa ke berbagai bagian tubuh (arrhythmia)
  5. Ketersediaan oksigen dalam tubuh yang tiba-tiba menurun.
  6. Serangan jantung atau segala jenis kematian jantung mendadak.
  7. Penurunan gula darah tiba-tiba, biasanya terjadi pada penderita diabetes yang overdosis insulin.
  8. Occupational syncope, yaitu pingsan yang dipicu fungsi tubuh, seperti bersin, batuk, jatuh dari bangku, mengejan pada saat buang air besar, atau lainnya.
  9. Ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh dapat membuat pusing, karena perubahan konsentrasi cairan dalam tubuh secara langsung mempengaruhi tekanan darah.

10.  Kadang-kadang, seseorang pingsan sebagai akibat dari reaksi alergi terhadap beberapa obat atau pengobatan.

11.  Breath-holding attacks, biasanya terjadi pada beberapa anak setelah mengalami trauma seperti benturan atau cedera.

12.  Pingsan yang disebabkan keterlibatan emosi, umumnya membutuhkan keterlibatan ahli kesehatan jiwa.

13.  Episode menahan napas terlalu lama, anak yang bernapas cepat (hiperventilasi), epilepsi, trauma kepala, sakit kepala, histeria dan terpapar dengan suatu obat atau racun.

Jika anak Anda pingsan, lakukanlah beberapa hal di bawah ini:

  • Letakkan di tempat yang nyaman, perhatikan apakah anak dapat bernapas dan bagaimana denyut nadinya. Jika ada gangguan frekuensi nadi, segera bawa anak ke rumah sakit.
  • Pingsan akibat kelainan neurologis dapat diatasi dengan pengobatan sesuai penyakit yang mendasarinya. Demikian halnya dengan pingsan karena adanya kelainan jantung.
  • Bagi anak yang pernah pingsan, awasi peningkatan asupan garamnya dan pastikan ia selalu dalam kondisi cukup cairan.
  • Beberapa posisi diyakini dapat mencegah sakit kepala yang berlanjut menjadi pingsan, di antaranya posisi berbaring, jongkok, mengontraksi otot perut, menyilangkan kaki pada bagian pergelangan kaki, dan mengangkat satu kaki ke atas bangku sedangkan kaki yang lain tetap menginjak lantai.
  • Apabila tindakan non-farmakologis seperti di atas tidak dapat mencegah terjadinya pingsan, segera bawa anak ke rumah sakit agar mendapat penanganan lebih lanjut.

Semoga bermanfaat.

Sumber Nakita

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


15 − 7 =